The Last of Us The Movie Playstation 3

0
439
the last of us

The Last of Us dimulai pada september tahun 2013. Bagi yang penasaran belum memainkan gamenya atau udah tamat bisa menyaksikan kembali The Movie nya disini.

Waktu itu terjadi insiden yang akan mengubah 180 derajat umat manusia – parasit jamur bernama Cordyceps menjangkit dan merengut nyawa 60% populasi manusia di muka bumi dan mengubahnya menjadi zombie (Clickers). Riset untuk menemukan vaksin pada wabah ini pun gagal total, semua cara telah dilakukan dan tetap gagal. Pemerintah tetap tidak tinggal diam, mereka membuat quarantine zone di tiap district di amerika untuk tetap mengutuhkan kembali peradaban manusia.

Tidak hanya pemerintah yang ingin membentuk kembali peradaban manusia yang sudah berantakan, grup vigilante bernama Fireflies membuat pemerintahan dan persaudaraan sendiri yang dibangun dengan sejuta harapan akan kembalinya kejayaan umat manusia. Tidak terimanya perilaku tidak adil pemerintah, Fireflies membuat perlawanan.

Makhluk hidup akan menemukan jalanya untuk survive, para Hunter atau kelompok barbar yang tidak peduli akan masa depan umat manusia – mereka hanya ingin survive dan tetap bertahan hidup dengan melakukan segala cara. para Hunter menyerang militer dengan membabibuta dan menagih setiap kebutuhan pokok pada mereka, seperti makanan, pakaian, senjata, obat-obatan. Jika kebutuhan mereka tak terpenuhi, mereka akan menghabisi seluruh isi di QZ (Quarantine Zone).

20 tahun sudah berlalu, seluruh QZ pemerintah telah dikosongkan dan ditinggalkan – kecuali di Boston. Ini disebabkan ketidakmampuan pemerintah mengontrol orang yang desperate untuk survive. Para pengikut Fireflies yang bercita-cita akan kembailnya peradaban pun telah banyak dihabisi militer. Apakah masih ada secercah harapan untuk umat manusia kembali berjaya? Apakah perjuangan mu akan tetap berarti? Apa mimpi-mimpi lamamu sudah benar musnah?

Joel dan Tess, survivor yang bertahun-tahun mereka habiskan untuk meng-escort barang-barang ilegal dan outsider yang ingin hidup lebih baik kedalam QZ di Boston. Sudah 20 tahun mereka survive, Joel tetap dihantui oleh masa lalunya: saat insiden pandemic tersebut, ia kehilangan anak perempuannya, karena ditembak mati oleh militer – disebabkan militer takut menumpuknya populasi di QZ dan menambahkan banyak beban. Pemerintah tidak menerima banyak outsider di QZ dan membumihanguskan mereka yang memaksa ingin masuk – “Sacrifice the few to save the many.”

Pada suatu saat di QZ, Robert – sahabat Joel dan Tess – berkhianat dan menjual supply senjata milik mereka ke group Fireflies. Joel dan Tess pun mencari dan menghabisi Robert, lalu memikirkan jalan untuk mendapatkan persenjataan mereka kembali. Opsi pertama, mencari seorang Firefly dan bertemu ketuanya, Marlene, dan menjelaskan kepada mereka kalau senjata itu tidak untuk dijual.

Tak lama setelah itu dan tak diduga-duga, Marlene langsung muncul dihadapan mereka. Marlene berkata: “jika kalian ingin persenjataan kalian kembali, tolong escort Ellie keluar dari QZ dan bawa ia ke Capitol Building. Setelah itu, di sana, kalian akan menemukan para Fireflies. Dan dari sana, mereka akan membawa Ellie ke HQ Fireflies. Lalu kalian akan mendapatkan supply senjata kalian kembali – bahkan akan kami tambahkan.” Joel dan Tess pun setuju tanpa mengetahui latar belakang Ellie.

Seiring perjalanan menuju Capitol Building, Joel dan Tess mengetahui siapa itu Ellie dan apa yang diinginkan Fireflies olehnya. Ternyata dia memiliki imun terhadap parasit yang membunuh jutaan orang – dan Marlene ingin menciptakan Vaksin dari apa yang dialami Ellie. Tentu itu hal yang mengerikan, disaat kamu struggle menghadapi kehidupan dan sadar tidak ada jalan keluar – dan kamu terbiasa akan hal itu, sesuatu yang aneh menjadi kenyataan.

Saat sampainya di Capitol Building, semua Fireflies yang ingin membawa Ellie ternyata sudah mati dibunuh para militer; Joel dan Ellie menyadari ternyata Tess telah terinfeksi gigitan dari clicker saat perjalanan menuju Capitol Building. Tess mengucapkan kata terakhirnya, yaitu permohon pada Joel untuk membawa Ellie ke pusat Fireflies yang jauh entah di mana dan bagaimanapuncaranya. Tess memohon untuk sebuah penebusan atas apa yang ia lakukan dalam akhir hidupnya, ia ingin melakukan sesuatu yang meaningful agar dirinya dapat mati dengan damai, atau setidaknya melakukan sesuatu yang baik di akhir hidupnya. Awalnya Joel menolak, tapi mau tidak mau ia harus memenuhi keinginan terakhir Tess.

Selebihnya adalah berjalanan panjang tentang Joel dan Ellie menuju HQ Fireflies yang sungguh tak terlupakan.

The Last of Us memiliki karakter yang kompleks dan skrip cerita yang matang membuat karakter di game ini menjadi karakter yang sangat manusia – tak memiliki kekuatan apa-apa selain mimpi, harapan, dan perjuangan. Itulah yang membuat sesosok orang nampak sangat heroik, powerful, dan mengagumkan. Saya sangat menyukai karekter-karakter di The Last of Us, seperti Marlene, Bill, dan David.

Marlene adalah ketua Fireflies, seorang perempuan yang tangkas yang bercita-cita membentuk kembali peradaban manusia. Kalian bisa melihat air mata harapan yang ia teteskan untuk mewujudkan itu, walau banyak sekali anggotanya yang mati diburu oleh militer. Dengan pilihan hidup yang sulit dan tentu saja dalam kondisi seperti ini tidak ada yang namanya pilihan, Marlene tetap terus berusaha dan selalu menjadi sosok yang tampak kuat di depan para Fireflies dan lawan-lawannya.

Bill adalah karakter yang memiliki sedikit penyakit kejiwaan – karena sangat tak bisa meninggalkan sama apa yang ia miliki. Semua barangnya yang ia simpan menumpuk dan tak ada yang boleh mengangunya; nama dari penyakit ini adalah Hoarders. Sebab ini juga, ia tak mau meninggalkan zona-amanya.

Bill juga sempat mempunyai partner bernama Frank yang ia sangat cintai. Partner Bill memiliki keperibadian yang berbeda, yaitu ingin sekali mencari pengalaman – yang tentu saja tidak synchrone dengan karakter Bill yang memilih untuk tetap tinggal di zona-amanya dan mengutak-ngatik barang yang ia miliki. Bill sangat kecewa saat mengetahui kalau Frank berusaha kabur dari Bill untuk mencari pengalaman, walau pada akhirnya Frank gagal mewujudkan itu karena mati di perjalanan.

David adalah karakter yang sangat dewasa, pemimpin yang sangat dicintai dan dihormati dari group kecil pemakan manusia. Orang-orang di group ini memilih menjadi canibal bukan karena nafsu atau hasrat, tapi karena benar-benar tak ada pilihan dalam dunia ini. Group ini juga memiliki orang-orang innocent yang mereka cintai seperti anak-anak dan wanita. Group yang terlihat menyeramkan tapi memiliki sisi yang lain di baliknya.

David juga sangat tertarik dengan Ellie, karena ia melihat Ellie memiliki hati dan karena kengoyoan Ellie dalam berjuang. Karena kepercayaan itu, David ingin menjadikan Ellie mungkin seorang pengantinya kelak.

Saya sangat menyukai perkataan David atau lebih tepatnya prinsipnya: “Everything happens for a reason”; Seiring perjalanan David dalam menekuni kehidupan, dia menemukan keyakinan dan pandangan tentang bagaimana dunia ini bekerja, dan itu membentuk pendiriannya. Orang gila manapun walau di mata umum tampak keji, mungkin punya alasan lain yang membuat orang tersebut melakukan hal itu.

David mengingatkan ku tentang kisah Armin Meiwes. Armin Meiwes adalah orang yang terkenal karena kegilaanya, yaitu memiliki passion untuk memakan orang yang orang tersebut juga rela dan senang hati untuk dimakan. Karena passion itu, Armin menemukan pasangan yang cocok untuk disantap.

Dalam video-nya yang ia buat dan sengaja untuk mengenang momen yang menurutnya indah tersebut, kedua pasangan ini tampak tak merasa takut dan justru bahagaia bersama. Mungkin perilaku Armin dan pasangannya tampak aneh dan menjijikan di mata orang berakal sehat, tapi tentu Armin memiliki alasan dan pendirian mengapa ia berbuat seperti itu, di luar konteks benar atau salah secara moralitas.

Waktu kecil, Armin dilarang orang tuanya untuk bermain bersama teman sebayanya dan dibiarkan tinggal di rumah saja dan membaca buku dongeng. Ia memiliki teman imajinasi bernama Frank untuk menemaninya dalam kesendirian itu. Armin terinspirasi menjadi seorang canibal karena membaca kisah “Hansel and Gretel,” di mana ada bagian canibal di dalamnya, dan sebab itu juga ia selalu berimaginasi memakan sahabat imaginasinya, Frank.

Setelah dewasa, ia pun mencari pasangan impiannya dengan iklan di internet, akhirnya ada orang gila lain yang tertarik dengan iklan tersebut. Alhasil kejadian mengerikan dan di luar akal sehat pun terjadi. Kita tidak akan pernah tau apa yang orang lain telah lalui dalam hidupnya, dan tentu saja pasti ada alasan dari setiap tindakan seseorang dan tiap orang juga memiliki pendirian dan pemikiran atas kebenaran dari ukuran moralitasnya pun juga berbeda-beda.

Apa saja ya yang terjadi sebelum outbreak??

sepertinya banyak sekali yang telah ku lewatkan

Ellie sendiri adalah karakter yang kompleks, anak perempuan muda biasa yang ingin mencari jati diri dan ingin melakukan sesuatu dalam hidupnya. Ia juga suka ber-akting seperti apa yang ia sukai. Seperti anak muda biasa, dia juga ingin terlihat cool; ia menyukai latar belakang dirinya yang terlihat hebat.

Ellie menjadi sosok yang berubah saat dia kenal dengan Riley, teman lama Ellie sebelum bertemu dengan Joel – yang mengajari Ellie tentang jangan pernah putus asa dalam hidup walau di depanmu hanya ada kematian. Riley membuat Ellie belajar tentang kehidupan sebenarnya, tentang survive dan apa yang ia lakukan akan selalu berarti kelak. Sebab itu, Ellie sangat mati-matian dalam berjuang untuk mewujudkan mimpinya menuju markas Fireflies.

Ellie sangat mencintai Joel seperti ayah kandungnya sendiri, karena dia tidak memiliki siapa-siapa lagi yang peduli dengannya. Dan begitu pula dengan Joel, yang justru membuat dirinya rela mengorbankan segalanya hanya untuk Ellie, walaupun nyawa sekalipun – bahkan lebih; itu semua karena Joel sangat melihat perjuagan dan kengoyoan Ellie untuk mengapai mimpinya, dan menemukan alasan terakhir untuk menebus kesalahan-kesalahan hidupnya.

Aku suka sekali ending dari The Last of Us – yang menggambarkan sebagaimana jauh jika seorang memiliki kesempatan untuk menebus segala tindakan yang ia lakukan. Joel sangat menyesali kehilangan buah hatinya dulu, dan membuatnya menyadari seorang harus move on dari segala hal yang terjadi, yang membuat Joel memiliki prinsip jangan pernah larut dalam penyesalan: “things happen so we move on.” Seiring permainan, Joel semakin belajar dari Ellie, kalau prinsipnya tidak selalu benar; itu hanya gagasan yang tercipta agar ia tetap memiliki alasan untuk melanjuti hidupnya.

Ending The Last of Us mengingatkan ku tentang ending “Metal Gear Solid 4.” Ending-nya tentang mengakhiri cerita mimpi liberty para karakter-karakter sebelumnya – mengakhiri sebuah zaman menuju zaman yang baru, dan menuju kebebasan dari perangkap pemikiran, dan arti sebuah perjuangan untuk mewujudkan suatu gagasan. Mungkin tidak sama, tapi intinya adalah mau bagaimanapun kau merasa terbebas, manusia diciptakan untuk mati, jadi syukurilah kebebasan mu – memento mori.

Joel memiliki pemikiran, karena sudah bertahun-tahun struggle menghadapi kenyataan – ia menganggap perjuangan itu bukan sesuatu yang benar-benar penting lagi, karena ia telah kehilangan hal yang lebih penting yang dulu ada: “I struggled for a long time with survivin’. And you—No matter what, you keep finding something to fight for.” Ditambah kenangan buruk yang selalu menghantuinya, kenangan yang menjadikan alasanya untuk mempersilahkan segala tindakan yang ia perbuat. Ada hal yang lebih penting dari sekedar tujuan.

Tapi Ellie membuat Joel merubah prinsip hidupnya, dia melihat alasan dalam diri Ellie, alasan untuk dia merasa terampuni atas tindakan-tindakan dalam hidupnya. Karena tindakan pengorbanan Joel yang begitu kompleks – yang sulit diuraikan kata-kata – dan mungkin akan sulit dipahami Ellie, Joel terpaksa berbohong.

Ellie tak setuju dengan tindakan Joel di ending game ini, di mana ia masih muda dan masih memiliki sejuta hasrat dalam dirinya – ditambah pemikiran yang sempat tertanamkan oleh Riley, yaitu berjuang walaupun harapan tidak nampak. Pemikiran Ellie mungkin tak diucapkan, tapi pemain akan bisa melihat langsung apa yang ia pikirkan dari matanya, tepat sebelum credit muncul di layar kaca. Awesome!!. Tidak ada cerita yang berakhir, tak ada final dari cerita di The Last of Us, tapi membuat kita berfikir tentang apa yang telah pemain lakukan dalam kehidupannya sehari-hari.

Saya merasa lega setelah menamatkan game ini – mulai dari tensi yang kaya, kisah jatuh bangunnya Joel dan Ellie, lalu game dieksekusi dengan sangat kompleks dan damai – sangat luar biasa *tepuk tangan: prok, prok, prok.* Endingnya pula mengingatkan ku pada film “Battle Royale,” konversasi antara yang muda dan yang tua – bagaimana merka melihat dunia ini. Simple, but complex.

The Last of Us tidak hanya memiliki dasar cerita yang apik, tapi juga ceritanya dipresentasikan dengan seemless dan grounded. Selama permainan penonton tidak dibiarkan untuk mempertanyakan alur ceritanya, tapi akan ikut masuk ke dunia The Last of Us dengan penataan skrip, tensi, dan paduan soundtrack yang sangat luar biasa.

Saat in-game, The Last of Us tidak melulu tembak-menembak dan menghabisi wave dari para musuh seperti kebanyakan game. Selama permainan kalian akan melihat interaksi karakternya dalam menyampaikan pendapatnya pada apa yang mereka lihat dan rasakan. Pemain akan mengimaginasikan bagaimana perasaan tiap karakter dan mengapa ia berkata seperti itu, dan itu membuat game terasa lebih hidup dan emosional.

The Last of Us memiliki banyak sekenario dan setpiece yang menarik dan membentuk tensi tersendiri di tiap areanya, seperi musim gugur yang menghangatkan hati, musim salju yang kelam dan menakutkan, musim semi yang anggun, lorong-lorong hotel yang sudah berpuluh tahun ditinggalkan – yang membuat kita berfikir apa saja yang telah terjadi di tempat ini sebelumnya, tensi mengerikan di suatu tempat yang seperti diawasi atau diburu, perasaan merinding akan dibunuh tiba-tiba, dan banyak lagi. Semua itu membuat feeling bermacam-macam langsung pada pemain yang tidak akan pernah terlupakan – seperti pertama kali anda mencoba roller coaster.

Please share it to your friends ;)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •